own menu bar

Realita

Berlari. Tanpa sadar ia berlari. Sejauh mungkin sampai kakinya lelah. Lagipula apa artinya berjalan jika dikejar bayang? Semakin cepat ia lari, semakin cepat pula bayang mengejar. Ini hidup bukan sebatas hidup. Melainkan batu di pinggir sungai yang terkikis air. Larinya kemudian menjadi sebuah candu. Menghindar dari titian halus bencana. Tak mau repot menyeberanginya. Ketika lelah ia berhenti. Mengais belas kasih dari keberuntungan.
Semu. Lantaran semua bisu hingga tercipta bayang dari bayang. Yang ada hanya kenyamanan palsu dari ketiadaberdayaan. Sepatu-sepatu itu lalu rusak, usang terkikis waktu. Kakinya kini bukan hanya lelah. Tak dapat lagi digunakan sementara jurang semakin dekat, menariknya kuat-kuat. Hanya bisa meratap. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Keberuntungan telah menjauh darinya. Tak lagi dapat bergantung pada kasih sayangnya. Dinding juga tak membantu. Runtuh bertahun-tahun lalu. Manusia sebatas manusia. Jika ajal sudah dekat, dia tak akan bisa lari kemana-mana.