Apabila ditanya hal lain, jawabnya tak tahu. Karena memang hidupnya tanpa tujuan, serba tak pasti. Menulis tak pasti, menerka waktu memberinya apa. Bagus atau tidak. Bisa membuatnya bahagia atau tidak. Tak tentu.
Ia, gadis. Masih harus belajar banyak tentang kepastian. Arti lebih dari menunggu. Mengambil keputusan yang tak menimbulkan penyesalan. Ia, gadis. Cuma tahu bermain-main. Serius bukan hidupnya. Santai. Hingga tiba saatnya waktu pembuktian. Ia tak bisa apa-apa. Lalu terpuruk. Bisanya mencela. Diri sendiri dicela habis. Dipatahkan semangat. Lalu lari lagi. Terus. Sampai jatuh, berdarah, patah, hilang, terkubur. Sakitnya bukan main. Tak bisa diukur malah sampai berdoa benar mati. Bodoh. Mau saja dibudak dunia. Menjadi bagian dari manusia rakus. Tak tahu bersyukur. Selalu menyalahkan. Menari dalam bilik. Mencari bahagia yang menyengsarakan. Rasa-rasa cinta berlebihan pada hidup. Terkoyak habis. Dicela. Terlacur. Marah. Sakit. Adakah kata yang menggambarkan sakit berlebih?
Jawabnya: Tak ada.
Bagian mana dirinya menginginkan kesempurnaan, itulah yang hilang seluruhnya. Bukankah kita diciptakan untuk tidak sempurna?
Ia, gadis. Tak benar mencari sempurna. Tapi ia tak sadar. Ia, gadis. Cuma manusia kerdil, gampang dihancurkan!




