own menu bar

Elegi (Dream)

Claudia's Side

"Aku bermimpi, indah dan menyenangkan semalam.
Melihatnya tersenyum bahagia dan menatapku teduh.
Mengulurkan tangannya yang kusambut antusias lalu menarikku.
Berlari di antara pepohonan, seperti bermain petak umpet.
Wajahnya berbinar dan kami tertawa-tawa, matanya tidak pernah lepas dariku.
Begitu juga tangannya yang erat menggenggam telapakku.
Kami akhirnya berhenti, rebah di rerumputan hijau yang empuk.
Menatap langit cerah di atas kami.
Lalu ia bangkit, memintaku untuk menari ballet karena ia sangat menyukainya.
Aku menurutinya, berjalan ke tengah dan mulai menari.
Menari dan terus menari hingga lupa diri.
Tapi mimpiku tidak berakhir bahagia.
Karena ketika aku berhenti, ia menghilang."






Charisma's Side


"Aku terjatuh ke dalam lubang hitam lalu sampai ke sebuah tempat. Gelap.
Aku melihat diriku terikat pada sebuah pilar.
Meneriaki dan menangisi adikku juga orang yang menindihnya.
Saat orang itu bangkit, adikku telah terbujur kaku dan suaranya menghilang.
Hanya raungan penyesalanku yang masih terdengar.
Kulihat cairan dingin berbau melumuri diriku.
Dan orang itu, Ya Tuhan, ia tertawa keji saat menyalakan pemantik.
Lalu aku kembali terhisap ke dalam lubang hitam tadi.
Membawaku entah kemana.
Aku memejamkan mata, atau kurang lebih begitu.
Karena yang kulihat sama, hanya kegelapan yang pekat dan menyakitkan.
Seperti sebuah cahaya silau menyinari wajahku, aku membuka mata.
Birunya langit menyambut penglihatanku.
Semilir angin menggoyangkan rambutku.
Dan lembutnya rerumputan terasa di bawah telapakku.
Aku berdiri, hamparan padang rumput menyapa penglihatanku.
Sesuatu menarikku perhatianku.
Sebuah siluet menari-nari di bawah bayang-bayang matahari.
Bergerak indah memunculkan rasa rindu dari dalam diriku.
Ia kemudian berhenti. Memandangku.
Aku tertegun. Wajah cantik itu menatapku pedih dengan maskara bercampur air mata melunturi pipinya.
Tutu-nya berwarna merah, seperti berdarah.
Baru saja aku akan bertanya,
lubang hitam itu kembali menarikku."

Dream

Fairy World

Elegi (Calling Out)

Aku hanya bisa berkata iya setiap dia memanggilku. Seakan kata 'tidak' menghilang dari seluruh perbendeharaan kata. Senyum yang selalu kusunggingkan, palsu. Lebih palsu dari pelakon opera sabun sekalipun. Walaupun kadang dalam diriku sering menghujat dia, mencaci makinya karena kebencianku padanya, semua tetap tidak bisa dipungkiri. Aku masih mencintainya. Menyayanginya meski dia tidak pernah seperti itu sejak kami memutuskan hubungan beberapa waktu lalu. Wajarkah? Entahlah. Namun hingga sekarang, dia masih membutuhkanku. Kami tidak bisa berjauhan. Dia pernah berkata padaku, "Rasanya sebagian diriku lenyap jika aku tidak bersamamu sehari saja."
Gombal? Ya ampun jangan ditanya lagi! Jika ia mengatakannya di OPERA VAN JAVA, mungkin dia akan ditertawakan. Ironis. Mengapa aku tidak bisa menertawainya dan malah menatapnya dengan mata berkaca-kaca? Tapi wajahnya begitu serius saat berkata seperti itu. Menimbulkan sebuah harapan besar bahwa kami akan balikan.

Nyatanya?
Kami tidak pernah kembali menjadi pasangan. Aku tetap single sementara dia selalu double. Berkali-kali rasa sakit mendera melihatnya merayu gadis lain tepat di hadapanku. Gadisnya tidak satu. Seakan dia itu raja minyak yang selalu dikelilingi gadis-gadis. Teman-temanku kembali menghujatnya, menghinanya, bahkan memarahiku. Tapi aku hanya bisa menutup mata dan telinga. Berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Kembali aku disadarkan. Kali ini tidaj sengaja, oleh temanku sendiri. Bukan dimarahi dan disalah-salahkan seperti biasa, namun disadarkan dengan kenyataan pahit. Bahwa mereka--temanku dan mantanku--ya Tuhan aku tidak bisa mempercayai ini sama sekali!!! Mereka berdua ternyata sudah meresmikan hubungan mereka di depanku. Dengan wajah berbinar dan tanpa rasa bersalah sedikitpun!!!!

Muak! Ingin rasanya aku memuntahinya dengan segala macam kata-kata dan janjinya yang dulu pernah ia katakan. Seluruh syaraf di tubuhku menegang. Aku sangat marah, terlebih pada diriku sendiri. Bodoh ya? Sudah jelas mereka mengumbar kemesraan dan tetek bengeknya itu, aku masih saja mematung.

Perlahan aku melangkah mundur. Berbalik, berjalan cepat menjauh dari mereka. Tak kugubris panggilannya. Kata tidak itu kembali ke dalam kamus bahasa di otakku. Seluruh sel dan pembuluh darah dalam tubuhku menolaknya. Tak ada lagi kata ya, tak ada lagi senyum palsu.
Semoga kalian bahagia, BITCH!!!


Elegi (My Story)

Mengingatmu, perlu sebuah tenaga agar bisa menguasai diri.
Mengingatmu, satu hal yang paling kubenci.
Mengingatmu, lebih sakit daripada saat kehilanganmu.
Mengingatmu... apa ada alat yang bisa membuatku seakan mati selain ini?

Awal mengenalmu, begitu indah sampai alam semesta pun kalah.
Awal mengenalmu, rasanya semua akan baik-baik saja.
Awal mengenalmu, aku mempercayakan semuanya padamu.
Bahkan hatiku....

Serpihannya kini masih sangat terasa. Terkadang sakit tak tertahankan.
Saat kehilanganmu, aku merasa sebagian diriku menghilang.
Saat kehilanganmu, aku hampa.
Saat kehilanganmu, aku limbung.
Saat kehilanganmu, aku tersesat.
Saat kehilanganmu, aku jatuh.
Saat kehilanganmu, aku gila.
Saat kehilanganmu, aku... mati.

Tuhan seakan menghukumku. Tidak mengizinkanku lebih lama bersamamu.
Tahu kah kau betapa aku merindukanmu saat ini?
Seakan seluruh air mata tak cukup untuk membuktikan betapa aku membutuhkanmu.
Membutuhkan senyummu, genggaman tanganmu, tatapan matamu, rangkulan hangatmu.
Dan suaramu saat mengatakan, "Aku di sini, selalu."
Aku membutuhkanmu! Tolong kembali padaku! Jeritan dalam hati yang tak pernah berani kuteriakan.

Aku tidak berdaya, tidak bertenaga untuk menuntunmu kembali. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum getir ketika kita bertemu dan kau menggenggam tangan gadis lain. Should we be friends? Tidakkah kau menyadari betapa sakitnya aku melihatmu berdua? Menggenggam tangan selain tanganku? Bahkan bisa tersenyum selain kepadaku?
Apakah sudah terlambat untuk menyadari semua kesalahanku? Apakah terlambat untuk menyadari semua ini hanya janji kosong? Kau akan kembali, kau berjanji padaku beberapa waktu lalu. Tapi kupikir, kau sudah bahagia. Kau telah menentukan jalanmu sendiri. Kau memutuskannya, tanpa aku tahu. Kita terpisah jauh sekarang, aku mengerti. Yang tak aku mengerti adalah: mengapa rasa sayang dan cintaku untukmu tidak berkurang? Adakah mantra untuk melupakanmu, ah tidak, untuk menghilangkan rasa itu? Aku tidak mau dan tidak akan pernah melupakanmu, kau tahu itu.

Seperti suratan takdir, Tuhan memang tidak pernah mengizinkan kita bersanding. Aku harus melalui semuanya sendirian, tanpa support darimu. Kita bahkan tidak pernah saling mengontak lagi. Aku ragu kau masih mengingatku sejauh ini. Akan kuberikan penghormatan besar jika kau menegurku nanti, jika kita bertemu lagi.


Yang bisa kulakukan sekarang hanya.... mengenangmu?