Mengingatmu, perlu sebuah tenaga agar bisa menguasai diri.
Mengingatmu, satu hal yang paling kubenci.
Mengingatmu, lebih sakit daripada saat kehilanganmu.
Mengingatmu... apa ada alat yang bisa membuatku seakan mati selain ini?
Awal mengenalmu, begitu indah sampai alam semesta pun kalah.
Awal mengenalmu, rasanya semua akan baik-baik saja.
Awal mengenalmu, aku mempercayakan semuanya padamu.
Bahkan hatiku....
Serpihannya kini masih sangat terasa. Terkadang sakit tak tertahankan.
Saat kehilanganmu, aku merasa sebagian diriku menghilang.
Saat kehilanganmu, aku hampa.
Saat kehilanganmu, aku limbung.
Saat kehilanganmu, aku tersesat.
Saat kehilanganmu, aku jatuh.
Saat kehilanganmu, aku gila.
Saat kehilanganmu, aku... mati.
Tuhan seakan menghukumku. Tidak mengizinkanku lebih lama bersamamu.
Tahu kah kau betapa aku merindukanmu saat ini?
Seakan seluruh air mata tak cukup untuk membuktikan betapa aku membutuhkanmu.
Membutuhkan senyummu, genggaman tanganmu, tatapan matamu, rangkulan hangatmu.
Dan suaramu saat mengatakan, "Aku di sini, selalu."
Aku membutuhkanmu! Tolong kembali padaku! Jeritan dalam hati yang tak pernah berani kuteriakan.
Aku tidak berdaya, tidak bertenaga untuk menuntunmu kembali. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum getir ketika kita bertemu dan kau menggenggam tangan gadis lain. Should we be friends? Tidakkah kau menyadari betapa sakitnya aku melihatmu berdua? Menggenggam tangan selain tanganku? Bahkan bisa tersenyum selain kepadaku?
Apakah sudah terlambat untuk menyadari semua kesalahanku? Apakah terlambat untuk menyadari semua ini hanya janji kosong? Kau akan kembali, kau berjanji padaku beberapa waktu lalu. Tapi kupikir, kau sudah bahagia. Kau telah menentukan jalanmu sendiri. Kau memutuskannya, tanpa aku tahu. Kita terpisah jauh sekarang, aku mengerti. Yang tak aku mengerti adalah: mengapa rasa sayang dan cintaku untukmu tidak berkurang? Adakah mantra untuk melupakanmu, ah tidak, untuk menghilangkan rasa itu? Aku tidak mau dan tidak akan pernah melupakanmu, kau tahu itu.
Seperti suratan takdir, Tuhan memang tidak pernah mengizinkan kita bersanding. Aku harus melalui semuanya sendirian, tanpa support darimu. Kita bahkan tidak pernah saling mengontak lagi. Aku ragu kau masih mengingatku sejauh ini. Akan kuberikan penghormatan besar jika kau menegurku nanti, jika kita bertemu lagi.
Yang bisa kulakukan sekarang hanya.... mengenangmu?





Tidak ada komentar:
Posting Komentar