own menu bar

Serena's Love Story

Bagaimana rasanya berada di antara dua pilihan yang memberatkan?

Bingung, bimbang, merana, depresi.

Aku berada di antara dua pilihan itu, yang melibatkan dua orang yang sungguh berbeda dan tanpa sengaja menjadi bagian penting dalam hidupku. Semua menjadi kesalahanku ketika semesta kemudian mengubah arah nasib dan takdir kami, memecah kami. Aku bertanya-tanya, apakah ini sebuah pertanda? Jika iya, kapan semuanya akan berakhir, setidaknya, bahagia?

Kusebut salah satunya sebagai Nolan dan satunya lagi sebagai Gardner. Nolan dan Gardner adalah dua orang yang datang ke dalam hidupku pada waktu yang berbeda. Ini semua bermula saat aku berada di tingkat kedua masa kuliahku. Semester tiga. Bukan waktu-waktu terhebatku. Aku kehilangan banyak hal ketika memasuki dunia kuliah, termasuk mimpi dan hobiku. Yang terpenting adalah aku kehilangan banyak inspirasi dan imajinasi yang biasa mendatangiku, membuatku selalu menyendiri di dalam kamar di rumahku, ratusan kilometer jauhnya dari kampusku. Aku baru memasuki fase baru dalam hidupku, umur yang menginjak sembilan belas tahun. Memutuskan untuk memulai kembali semuanya dari awal, kuliah, pertemanan, dan pasangan. Untuk yang terakhir aku tidak terlalu berpusing. Toh, aku memang tidak tertarik menjalin hubungan pada saat itu. Tidak, karena aku memiliki lusinan teman-teman yang akan menjagaku dan akan membuatku bahagia dalam waktu yang bersamaan. Sesuatu telah kulupakan dan aku menjadi terlalu kelewat batas. Tidak perlu kuceritakan bagaimana rasanya menjalani waktu-waktu tersebut. Pada masa itu, Nolan muncul layaknya Ratu Adil. Menyelamatkanku dari situasi yang menurut hematnya adalah berbahaya. Sayangnya, aku terjebak dalam ucapku sendiri. Nolan adalah kawanku yang juga berasal dari ibukota. Sempat aku berucap ketika berada di sekolah menegah dulu, bahwa aku tidak akan memilih temanku sebagai pasangan. Nyatanya, aku ingkar. Mengingkari prinsip waktu itu adalah kebodohan yang tak kusadari karena aku merasa sangat mencintainya. Bahwa Nolan adalah seorang yang tepat untukku dan tak lupa mendoakan agar hubungan kami langgeng sedemikian rupa hingga mengikat janji sehidup semati. Membayangkan membangun sebuah keluarga bersamanya, adalah imajinasi konyol yang terlampau jauh.

Aku bukan gadis yang bercita-cita menjadi istri seseorang. Bukan berarti aku tidak memiliki keinginan untuk menikah, walaupun nantinya aku akan dipinang seseorang yang belum ketahuan wajahnya. Dahulu, keinginanku adalah menjadi penuli dan seorang desainer sekaligus, yang akan dikenal banyak orang dan pergi ke New York. Sebuah keinginan masa remaja yang tidak bisa terealisasi hingga kini. Waktuku banyak terbuang untuk hal-hal yang tidak penting, aku menyesali hal itu. Kemudian menyesali mengapa aku harus mengalami waktu-waktu terburuk pada masa kuliah kemarin, bersama Nolan pula! Aku tidak bilang bahwa aku tidak bahagia waktu aku bersama Nolan. Aku bahagia, pada awalnya. Seiring berjalannya waktu hubungan itu semakin sulit dijalankan. Aku tidak mengerti apa penyebabnya. Apakah karena terlalu sering bersama? Atau kami berdua berwatak sama kerasnya? Yang jelas kami tidak membaik. Aku merasa Nolan tidak mendukungku dan terlalu memaksakan kehendaknya. Aku mencintainya, mendukungnya dalam segala keadaan. Berusaha menjadikannya di atasku dan menjadi hebat. Kemudian suatu hari Jumat berangin dan hujan lebat, ketika aku dan Nolan berteduh di kampus, ia menjadikanku bulan-bulanan. Akupun begitu, sudah muak dengan segala ketidakikhlasannya yang selalu ditunjukan. Ia mengolok-olok keluargaku. Berucap semaunya sendiri. Semua dilakukan atas kesadaran penuh. Ia menyakitiku. Menyakiti keluargaku. Tidak perlu kuceritakan kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang tuaku untuknya. Balasannya adalah seperti ini. Ia marah, aku juga marah. Tapi tidak pernah sekalipun aku menyinggung ayahnya yang telah tiada. Kuputuskan saat itu bahwa aku tidak bisa lagi menerimanya sebagai pasanganku. Aku muak.

Gardner berada dalam masa-masa tersulitku. Menyemangatiku, memuji, melemparkan lelucon. Kami saling mendengarkan. Ia menghiburku. Sekali lagi aku terjebak. Karena ia begitu baik padaku dan aku membutuhkan sosok lain selain Nolan yang bisa membuatku bangkit. Ia mau mendengarkan apa mauku. Bagaimana ambisiku menjadi seorang penulis, apa yang ingin aku lakukan sebelum meninggalkan kota itu jauh ke ibukota. Aku mengenal Gardner saat kami berdua memasuki semester sembilan, tahun kelima. Ia bekerja di sebuah kedai kopi, dimana temanku memperkenalkan kami. Aku tertarik, hal itu tidak bisa kupungkiri. Ia begitu… entahlah, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana ia dahulu. Aku hanya menerka asyiknya mengobrol dengan Gardner. Aku belum pernah mengobrol dengannya, hingga suatu saat waktu mempertemukan kami dalam situasi yang tepat.

Gardner, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana ia. Tapi yang jelas, ia terlalu sempurna. Aku pernah berharap bisa mengobrol banyak dengannya suatu hari. Karena dengan seperti itu aku bisa saja menerka bagaimana kepribadiannya melalui obrolan itu. Tidak lama kemudian kesempatan itu datang, tanpa terduga dan tak bisa dicegah. Kami berdua berada di restoran cepat saji, di lantai dua. Di luar hujan turun dengan lebat, menahan kami lebih lama. Jujur saja, aku sangat senang. Inilah yang kuinginkan. Mendengarkan ceritanya yang tidak kusangka akan semenarik itu. Mendengarkan pengharapannya akan hidupnya kelak setelah wisuda. Bagiaman ia memandang lawan jenis. Sungguh, semenarik itu. Sesuatu yang tidak biasanya kudapatkan selama tiga tahun bersama Nolan. Hanya dengan empat jam percakapan itu aku jadi kembali mendapatkan semangat. Kembali berupaya memperbaiki diri dengan harapan dapat mengembalikan hidupku lagi yang sebelumnya terenggut karena berbagai pengorbanan yang kulakukan agar dapat bersama Nolan. Nolan tidak tahu tentang pertemuanku dengan Gardner. Komunikasiku dengan Gardner, maupun kencanku dengan Gardner. Aku berselingkuh, kuakui. Hal ini kulakukan karena aku menginginkan sesuatu pada Gardner yang tidak kudapatkan dari Nolan. Sebuah perhatian dan dukungan. Aku kehilangan dua hal itu sejak jauh-jauh hari sebelum aku mengenal Gardner. Aku kehilangan hal terpenting yang seharusnya terus terjaga dalam sebuah hubungan. Aku merasa begitu sedih, karena kemudian aku mencintai Gardner. Mencoba membuatnya tetap berada bersamaku. Namun Nolan tahu. Menerka. Menebak. Menyudutkanku.

Saat itu aku kehilangan Gardner. Memaksa diriku tetap berada di samping Nolan sementara ia terus-menerus menghancurkanku. Mencabikku. Aku berharap uluran tangan semesta untuk menyelamatkanku dan mengembalikan Gardner padaku. Tapi tidak, semesta tidak melakukan hal itu padaku. Ia tetap mendekatkan Nolan dan menjauhkan Gardner.

Apa yang harus kuperbuat?

Berpikir panjang lebar selama berhari-hari. Berharap semua inspirasi itu datang lagi, akhirnya aku memutuskan suatu hal.


Aku harus mengakhirinya dengan Nolan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar