own menu bar

Orkes Hidup

Semakin lama kita hidup semakin kita sadar irama dan warna kehidupan.

Well, pernyataan di atas gak cuma omongan orang bijak belaka sih. Pernyataan di atas terbukti kok kalau kalian menikmati hal-hal kecil dalam hidup kalian dan merubah kebiasaan jelek semisal menggerutu atau mengutuk. Coba ubah pola hidup dengan selalu bersyukur atas apa yang udah dikasih sama yang di atas sana. Jangan kebanyakan ngeluh, Tuhan udah males dengernya. Nanti kalo elo kena azab kan gak lucu.


Nikmatin hal-hal kecil? Gak salah tuh?


Yah, gak salah sih selama ini pernyataan keluar dari mulut gue #abaikan. Hal-hal kecil yang gue maksud adalah seperti contoh : barang-barang di kamar lo, warna-warna pakaian di lemari, atau betapa bosannya nyapu halaman setiap sore. Tanpa kalian sadar semua itu ada filosofinya. Kenapa kalian meletakkan barang-barang itu di tempatnya sekarang? Kenapa pakaian kalian yang ada di lemari kebanyakan warna, misalnya, putih? Pasti ada jawaban yang lebih mendalam dibanding jawaban 'karena gue suka'. Menurut gue itu bukan jawaban karena hidup lebih dari sekedar suka dan tidak suka.

Baru-baru ini gue sadar kehidupan ini sama aja kayak musik, semua bernada. Coba perhatiin baik-baik. Kalo telinga kalian jeli kalian akan denger sebuah orkestra yang bahkan lebih indah dari karya maestro manapun yang pernah hidup. Oke, mungkin ini agak lebay. Tapi kenyataannya, gue jatuh cinta sama irama-irama itu. Membuat gue selalu berpikir tentang hal yang belum pernah terlintas di otak gue. Thanks to the melody cause I can forget 'bout how cruel is this life for a moment. Untuk pertama kalinya gue bersyukur terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa mendengarkan musik paling indah yang pernah ada.

Lebaran Independent

Satu bulan saya berada di rumah sejak awal puasa tahun ini dan bertahan hingga hari lebaran. Betapa saya merindukan hari kemenangan ini setelah satu tahun menunggu. Banyak perubahan yang membuat saya sedikit pangling. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman-teman SMA saya dalam acara buka puasa bersama. Sempat berharap saya akan bertemu dengan orang-orang yang pernah mengisi hari-hari saya dalam balutan seragam putih abu-abu, melihat kekonyolan mereka yang dulu sering ditunjukan. Tapi tidak, saya tidak lagi melihat mereka sebagai orang-orang yang saya kenal. Mereka memang teman-teman saya, yang beramah tamah dengan saya, yang bernostalgia bersama saya. Namun mereka bukan lagi orang-orang terdekat. Umpamakan saja mereka adalah ponsel Nokia yang berprogam seperti Blackberry. Sebagian besar sikap lama mereka yang saya rindukan terganti oleh suatu sifat baru. Saya menduga adanya suatu tuntutan zaman yang merubah mereka menjadi seperti itu. Namun saya, sebagai seseorang yang masih asli (menurut saya, karena sama sekali tidak ada perubahan dari penampilan maupun sifat dan tetek bengeknya), merasa sangat kehilangan sosok mereka dan ditinggalkan. Sebuah ironi dari kecanggihan zaman yang merubah sifat asli seorang manusia dan malah mengedepankan sisi gengsi juga ego.

Namun, dibalik modernitas ini, masih banyak orang-orang yang memiliki pemikiran kolot seperti misalnya, mengatur perjodohan. Saya jelas tidak membicarakan diri sendiri karena saya sendiri tidak begitu suka diatur. Saya membicarakan sebuah kebiasaan buruk yang mengakar dari keegoisan dan keserakahan. Salah satu alasan perjodohan adalah harta. Sebuah keluarga kaya menginginkan besan yang kaya juga agar setara kastanya. Padahal sistem kasta telah dihilangkan dari kehidupan kota besar, hanya beberapa daerah dan adat yang masih menggunakan sistem tersebut. Tetapi lagi-lagi, kesombongan menjadi awal dimana gengsi berkembang menjadi sebuah ironi. Yeah, ironi lagi. Bagaimana jika seseorang menikah karena perjodohan? Kita tidak tahu menahu soal orang yang akan kita nikahi. Beberapa kali pertemuan saja belum cukup. Apakah kita menyukai orang itu? Mencintai? Bagaimana sifatnya? Latar belakang keluarga saja tidak cukup untuk memulai sebuah rumah tangga yang diimpikan. Apalagi jika kemudian terkuak sifat asli pasangan yang membuat kita kecewa berat. Perceraian jelas satu-satunya jalan. Tapi kembali lagi, orang tua. Keluarga. Apakah mereka tidak akan lebih kecewa jika pada akhirnya anak-anak mereka memilih bercerai dari pasangan yang sudah mereka pilih? Apa anak-anak itu tega melihat orang tua mereka bersedih? Itulah perlunya sebuah kepercayaan dalam satu keluarga. Tidak melulu soal aturan dan adat. Anak-anak juga bisa memilah mana yang benar dan yang salah, terlebih untuk dirinya sendiri. Bukannya saya ingin mengajarkan pemberontakan, tapi cobalah untuk berani bergerak independent. Memilih pasangan hidup yang tepat dan kita cintai hingga akhir hayat bisa kita dapatkan tanpa bantuan perjodohan-paksa orang tua. Saya hanya mengingatkan agar nantinya tidak menyesali keadaan. Karena, percayalah kawan, penyesalan itu bukan hal menyenangkan yang bisa kita rewind sambil tersenyum. Penyesalan itu bukan kenangan yang akan membunuh diri sendiri. Suarakan kebebasanmu. Kamu akan lebih bahagia, jika mengerti arti dari kebebasan dan mengerti menjalaninya.



Salam independent!