own menu bar

Lebaran Independent

Satu bulan saya berada di rumah sejak awal puasa tahun ini dan bertahan hingga hari lebaran. Betapa saya merindukan hari kemenangan ini setelah satu tahun menunggu. Banyak perubahan yang membuat saya sedikit pangling. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman-teman SMA saya dalam acara buka puasa bersama. Sempat berharap saya akan bertemu dengan orang-orang yang pernah mengisi hari-hari saya dalam balutan seragam putih abu-abu, melihat kekonyolan mereka yang dulu sering ditunjukan. Tapi tidak, saya tidak lagi melihat mereka sebagai orang-orang yang saya kenal. Mereka memang teman-teman saya, yang beramah tamah dengan saya, yang bernostalgia bersama saya. Namun mereka bukan lagi orang-orang terdekat. Umpamakan saja mereka adalah ponsel Nokia yang berprogam seperti Blackberry. Sebagian besar sikap lama mereka yang saya rindukan terganti oleh suatu sifat baru. Saya menduga adanya suatu tuntutan zaman yang merubah mereka menjadi seperti itu. Namun saya, sebagai seseorang yang masih asli (menurut saya, karena sama sekali tidak ada perubahan dari penampilan maupun sifat dan tetek bengeknya), merasa sangat kehilangan sosok mereka dan ditinggalkan. Sebuah ironi dari kecanggihan zaman yang merubah sifat asli seorang manusia dan malah mengedepankan sisi gengsi juga ego.

Namun, dibalik modernitas ini, masih banyak orang-orang yang memiliki pemikiran kolot seperti misalnya, mengatur perjodohan. Saya jelas tidak membicarakan diri sendiri karena saya sendiri tidak begitu suka diatur. Saya membicarakan sebuah kebiasaan buruk yang mengakar dari keegoisan dan keserakahan. Salah satu alasan perjodohan adalah harta. Sebuah keluarga kaya menginginkan besan yang kaya juga agar setara kastanya. Padahal sistem kasta telah dihilangkan dari kehidupan kota besar, hanya beberapa daerah dan adat yang masih menggunakan sistem tersebut. Tetapi lagi-lagi, kesombongan menjadi awal dimana gengsi berkembang menjadi sebuah ironi. Yeah, ironi lagi. Bagaimana jika seseorang menikah karena perjodohan? Kita tidak tahu menahu soal orang yang akan kita nikahi. Beberapa kali pertemuan saja belum cukup. Apakah kita menyukai orang itu? Mencintai? Bagaimana sifatnya? Latar belakang keluarga saja tidak cukup untuk memulai sebuah rumah tangga yang diimpikan. Apalagi jika kemudian terkuak sifat asli pasangan yang membuat kita kecewa berat. Perceraian jelas satu-satunya jalan. Tapi kembali lagi, orang tua. Keluarga. Apakah mereka tidak akan lebih kecewa jika pada akhirnya anak-anak mereka memilih bercerai dari pasangan yang sudah mereka pilih? Apa anak-anak itu tega melihat orang tua mereka bersedih? Itulah perlunya sebuah kepercayaan dalam satu keluarga. Tidak melulu soal aturan dan adat. Anak-anak juga bisa memilah mana yang benar dan yang salah, terlebih untuk dirinya sendiri. Bukannya saya ingin mengajarkan pemberontakan, tapi cobalah untuk berani bergerak independent. Memilih pasangan hidup yang tepat dan kita cintai hingga akhir hayat bisa kita dapatkan tanpa bantuan perjodohan-paksa orang tua. Saya hanya mengingatkan agar nantinya tidak menyesali keadaan. Karena, percayalah kawan, penyesalan itu bukan hal menyenangkan yang bisa kita rewind sambil tersenyum. Penyesalan itu bukan kenangan yang akan membunuh diri sendiri. Suarakan kebebasanmu. Kamu akan lebih bahagia, jika mengerti arti dari kebebasan dan mengerti menjalaninya.



Salam independent!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar