Waktu itu semuanya sama. Kami sama, tertawa bersama, menangis bersama, makan bersama. Menjanjikan kebersamaan seerat keluarga. Ah, keluarga. Begitu mudah kata itu keluar dari mulut mereka. Begitu mudah mereka menganggap hubungan pertemanan ini sebegitu intimnya. Waktu itu kami semua masih sangat muda. Belum terlalu mengenal seluk diri kami, dan berani berkata bahwa kami adalah keluarga. Mereka belum tahu, seberapa besar kemungkinan kami akan terus bersama. Perpecahan rentan terjadi dalam persahabatan yang didasari oleh perasaan sukacita belaka. Dan dalam waktu dekat kemudian mereka menyadari bahwa kami bukan keluarga. Mereka saling membenci satu sama lain, bergunjing. Mencari cela terlalu banyak daripada mencari baik. Tidak menerima satu sifat jelek kemudian menjauhi, memakai topeng. Tidak adil. Janji itu seakan terlupa, terbang jauh terbawa angin dan tidak kembali ke dalam memori mereka. Tidak masalah, asal jangan membuatnya menjadi alasan untuk terus menginjak-injak. Tulisan ini berdasarkan kisah nyata dan bukan fiktif. Jika ada yang tersinggung, penulis meminta maaf. Yang ingin penulis tuangkan di dalam tulisan ini adalah bagaimana hubungan pertemanan berjalan selama bertahun-tahun dan selalu mengalami siklus yang sama, dimana yang mengalah dan terlalu terlena dalam pertemanan ini berkali-kali dijatuhkan ke dalam jurang oleh mereka yang punya kuasa.
Mencari teman, sesulit mencari jarum di dalam jerami. Harus benar-benar memiliki kemampuan melihat sifat dan sikap orang lain demi mendapatkan teman yang dicari. Walau berkali-kali harus menerima caci, hujat, menjadi bahan tertawaan. Ini ironi yang sering dijumpai dalam banyak kesempatan. Terutama dalam hubungan pertemanan wanita. Wanita yang berlidah tajam dan licin seperti pedang, yang bisa membuat orang mati dalam satu kali sabet. Yang kuat akan tetap berdiri seperti karang dihantam ombak. Yang lemah akan semakin terpuruk dan menghilang dalam timbunan kesedihan. Begitukah seharusnya hubungan pertemanan itu berjalan? Diawali dengan kecocokan, seribu janji persahabatan, dan diakhiri dengan pengkhianatan. Tidak sedikit yang mengalami, tidak sedikit pula yang mati karena sakit hati.
Namun pada akhirnya, mereka, yang kuat dan punya kuasa, akan tetap membutuhkan yang lemah. Mereka, yang berteman mengenakan seribu topeng pada wajahnya, akan menyadari bahwa bukan hanya gengsi yang dibutuhkan, tetapi juga pengertian dan perhatian. Mereka semua akan mencari si kaum lemah. Menyadari bahwa mereka adalah teman sejati yang tidak peduli bagaimana penampilan sahabatnya maupun menilainya dengan materi.
Dari Kota Budaya yang mengecewakan aku menulis mewakili temanku yang dijatuhkan setiap orang yang menjadi temannya. Hanya tidak ingin ada lagi yang mengalami hal serupa.
Salam Independent





Bener banget, teman yang sudah disiapkan tempat di hati bisa bikin kita mati dengan penghianatannya. Sedhaaaaap gila hahahahaha
BalasHapusngerti kan akhirnya mana yg bener dan ngga, perjuangan di kota orang bikin yg tadinya blur jadi jelas banget!!
Hapus