Elegi (Calling Out)
Aku
hanya bisa berkata iya setiap dia memanggilku. Seakan kata 'tidak' menghilang
dari seluruh perbendeharaan kata. Senyum yang selalu kusunggingkan, palsu.
Lebih palsu dari pelakon opera sabun sekalipun. Walaupun kadang dalam diriku
sering menghujat dia, mencaci makinya karena kebencianku padanya, semua tetap
tidak bisa dipungkiri. Aku masih mencintainya. Menyayanginya meski dia tidak
pernah seperti itu sejak kami memutuskan hubungan beberapa waktu lalu.
Wajarkah? Entahlah. Namun hingga sekarang, dia masih membutuhkanku. Kami tidak
bisa berjauhan. Dia pernah berkata padaku, "Rasanya sebagian diriku lenyap
jika aku tidak bersamamu sehari saja."
Gombal? Ya ampun jangan ditanya lagi! Jika ia mengatakannya di
OPERA VAN JAVA, mungkin dia akan ditertawakan. Ironis. Mengapa aku tidak bisa
menertawainya dan malah menatapnya dengan mata berkaca-kaca? Tapi wajahnya
begitu serius saat berkata seperti itu. Menimbulkan sebuah harapan besar bahwa
kami akan balikan.
Nyatanya?
Kami tidak pernah kembali menjadi pasangan. Aku tetap single
sementara dia selalu double. Berkali-kali rasa sakit mendera melihatnya merayu
gadis lain tepat di hadapanku. Gadisnya tidak satu. Seakan dia itu raja minyak
yang selalu dikelilingi gadis-gadis. Teman-temanku kembali menghujatnya,
menghinanya, bahkan memarahiku. Tapi aku hanya bisa menutup mata dan telinga.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kembali aku disadarkan. Kali ini tidaj sengaja, oleh temanku
sendiri. Bukan dimarahi dan disalah-salahkan seperti biasa, namun disadarkan
dengan kenyataan pahit. Bahwa mereka--temanku dan mantanku--ya Tuhan aku tidak
bisa mempercayai ini sama sekali!!! Mereka berdua ternyata sudah meresmikan
hubungan mereka di depanku. Dengan wajah berbinar dan tanpa rasa bersalah
sedikitpun!!!!
Muak! Ingin rasanya aku memuntahinya dengan segala macam kata-kata
dan janjinya yang dulu pernah ia katakan. Seluruh syaraf di tubuhku menegang.
Aku sangat marah, terlebih pada diriku sendiri. Bodoh ya? Sudah jelas mereka
mengumbar kemesraan dan tetek bengeknya itu, aku masih saja mematung.
Perlahan aku melangkah mundur. Berbalik, berjalan cepat menjauh
dari mereka. Tak kugubris panggilannya. Kata tidak itu kembali ke dalam kamus
bahasa di otakku. Seluruh sel dan pembuluh darah dalam tubuhku menolaknya. Tak
ada lagi kata ya, tak ada lagi senyum palsu.
Semoga kalian bahagia, BITCH!!!
Elegi (My Story)
Mengingatmu, perlu sebuah tenaga agar bisa menguasai diri.
Mengingatmu, satu hal yang paling kubenci.
Mengingatmu, lebih sakit daripada saat kehilanganmu.
Mengingatmu... apa ada alat yang bisa membuatku seakan mati selain ini?
Awal mengenalmu, begitu indah sampai alam semesta pun kalah.
Awal mengenalmu, rasanya semua akan baik-baik saja.
Awal mengenalmu, aku mempercayakan semuanya padamu.
Bahkan hatiku....
Serpihannya kini masih sangat terasa. Terkadang sakit tak tertahankan.
Saat kehilanganmu, aku merasa sebagian diriku menghilang.
Saat kehilanganmu, aku hampa.
Saat kehilanganmu, aku limbung.
Saat kehilanganmu, aku tersesat.
Saat kehilanganmu, aku jatuh.
Saat kehilanganmu, aku gila.
Saat kehilanganmu, aku... mati.
Tuhan seakan menghukumku. Tidak mengizinkanku lebih lama bersamamu.
Tahu kah kau betapa aku merindukanmu saat ini?
Seakan seluruh air mata tak cukup untuk membuktikan betapa aku membutuhkanmu.
Membutuhkan senyummu, genggaman tanganmu, tatapan matamu, rangkulan hangatmu.
Dan suaramu saat mengatakan, "Aku di sini, selalu."
Aku membutuhkanmu! Tolong kembali padaku! Jeritan dalam hati yang tak pernah berani kuteriakan.
Aku tidak berdaya, tidak bertenaga untuk menuntunmu kembali. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum getir ketika kita bertemu dan kau menggenggam tangan gadis lain. Should we be friends? Tidakkah kau menyadari betapa sakitnya aku melihatmu berdua? Menggenggam tangan selain tanganku? Bahkan bisa tersenyum selain kepadaku?
Apakah sudah terlambat untuk menyadari semua kesalahanku? Apakah terlambat untuk menyadari semua ini hanya janji kosong? Kau akan kembali, kau berjanji padaku beberapa waktu lalu. Tapi kupikir, kau sudah bahagia. Kau telah menentukan jalanmu sendiri. Kau memutuskannya, tanpa aku tahu. Kita terpisah jauh sekarang, aku mengerti. Yang tak aku mengerti adalah: mengapa rasa sayang dan cintaku untukmu tidak berkurang? Adakah mantra untuk melupakanmu, ah tidak, untuk menghilangkan rasa itu? Aku tidak mau dan tidak akan pernah melupakanmu, kau tahu itu.
Seperti suratan takdir, Tuhan memang tidak pernah mengizinkan kita bersanding. Aku harus melalui semuanya sendirian, tanpa support darimu. Kita bahkan tidak pernah saling mengontak lagi. Aku ragu kau masih mengingatku sejauh ini. Akan kuberikan penghormatan besar jika kau menegurku nanti, jika kita bertemu lagi.
Yang bisa kulakukan sekarang hanya.... mengenangmu?
Mengingatmu, satu hal yang paling kubenci.
Mengingatmu, lebih sakit daripada saat kehilanganmu.
Mengingatmu... apa ada alat yang bisa membuatku seakan mati selain ini?
Awal mengenalmu, begitu indah sampai alam semesta pun kalah.
Awal mengenalmu, rasanya semua akan baik-baik saja.
Awal mengenalmu, aku mempercayakan semuanya padamu.
Bahkan hatiku....
Serpihannya kini masih sangat terasa. Terkadang sakit tak tertahankan.
Saat kehilanganmu, aku merasa sebagian diriku menghilang.
Saat kehilanganmu, aku hampa.
Saat kehilanganmu, aku limbung.
Saat kehilanganmu, aku tersesat.
Saat kehilanganmu, aku jatuh.
Saat kehilanganmu, aku gila.
Saat kehilanganmu, aku... mati.
Tuhan seakan menghukumku. Tidak mengizinkanku lebih lama bersamamu.
Tahu kah kau betapa aku merindukanmu saat ini?
Seakan seluruh air mata tak cukup untuk membuktikan betapa aku membutuhkanmu.
Membutuhkan senyummu, genggaman tanganmu, tatapan matamu, rangkulan hangatmu.
Dan suaramu saat mengatakan, "Aku di sini, selalu."
Aku membutuhkanmu! Tolong kembali padaku! Jeritan dalam hati yang tak pernah berani kuteriakan.
Aku tidak berdaya, tidak bertenaga untuk menuntunmu kembali. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum getir ketika kita bertemu dan kau menggenggam tangan gadis lain. Should we be friends? Tidakkah kau menyadari betapa sakitnya aku melihatmu berdua? Menggenggam tangan selain tanganku? Bahkan bisa tersenyum selain kepadaku?
Apakah sudah terlambat untuk menyadari semua kesalahanku? Apakah terlambat untuk menyadari semua ini hanya janji kosong? Kau akan kembali, kau berjanji padaku beberapa waktu lalu. Tapi kupikir, kau sudah bahagia. Kau telah menentukan jalanmu sendiri. Kau memutuskannya, tanpa aku tahu. Kita terpisah jauh sekarang, aku mengerti. Yang tak aku mengerti adalah: mengapa rasa sayang dan cintaku untukmu tidak berkurang? Adakah mantra untuk melupakanmu, ah tidak, untuk menghilangkan rasa itu? Aku tidak mau dan tidak akan pernah melupakanmu, kau tahu itu.
Seperti suratan takdir, Tuhan memang tidak pernah mengizinkan kita bersanding. Aku harus melalui semuanya sendirian, tanpa support darimu. Kita bahkan tidak pernah saling mengontak lagi. Aku ragu kau masih mengingatku sejauh ini. Akan kuberikan penghormatan besar jika kau menegurku nanti, jika kita bertemu lagi.
Yang bisa kulakukan sekarang hanya.... mengenangmu?
Langganan:
Postingan (Atom)




