Dua Semester
Well, lama gak curhat!
Aku tau aku harus memposting setidaknya satu dari sekian banyaknya cerita pengalamanku selama merantau di kota orang. Yeah, aku berdomisili di Solo untuk beberapa tahun ke depan demi kuliah. Hebat, eh? Merantau demi belajar dan mendapat ilmu? Itulah yang kerap kali kudengar ketika aku menjawab pertanyaaan orang kalau aku kuliah di universitas di luar kota.
'Kok jauh banget? Emang bisa tinggal sendiri?'
'Kenapa gak di Jakarta aja? Kan cuma kuliah...'
'Gak capek apa, gak ada yang ngurusin?'
Bla, bla, bla...
Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar pertanyaan terkejut yang keluar dari mulut para penanya tersebut. Kalau dibilang lucu, sih, emang lucu. Apalagi kalau mendengar pertanyaan kedua di atas. Yah, kita kuliah kan ngga harus satu kota dengan orang tua. Lagipula, kalau ada yang murah dan lebih bagus, kenapa ngga? Harus diakui deh kuliah di kota kelahiran dan besar seperti Jakarta ini memang lebih menguras kantong ketimbang kuliah di luar kota. Apalagi kota kecil seperti Solo yang biaya hidupnya lebih murah.
Dari sekian banyak calon mahasiswa yang mendaftar SNMPTN dan berhasil lolos, aku salah satunya. Aku bersyukur karena jujur saja, untuk mengharapkan lulus saja aku tidak berani. Setelah pendaftaran dan tetek bengek yang diperlukan untuk melengkapi berkasku di Solo, aku kembali dihadapkan pada sebuah keberuntungan. Hasil SIMAK UI yang keluar sungguh mengejutkan. Aku lulus, sekali lagi, diterima di Ilmu Filsafat UI. Aku hanya bisa tertawa miris. Impianku menjadi salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah UI, malah jebol di Ilmu Filsafat. Untuk itu aku memutuskan untuk melepas UI.
Awalnya sulit memang. Menjadi satu-satunya cewek perantau di kelas (karena rata-rata perantau di kelasku yang berasal dari Jabodetabek adalah cowok!) yang harus beradaptasi dengan keadaan dimana aku harus mempelajari tiap karakter baru yang aku temui di kota kecil itu. Tidak mudah. Terlebih karena semua cewek di kelasku begitu pendiam dan jaim. Sama sekali berbeda dengan teman-temanku di Jakarta, yang rata-rata gila dan, yah, apa adanya. Karena itulah aku memilih mundur dari keakraban, menjaga jarak dengan mereka selama satu semester. Sulitnya aku bergaul dan jarang kuliah merupakan faktor buruknya IP yang aku peroleh saat yudisium.
Memasuki semester dua, aku mulai bisa menerima kehadiran mereka. Teman-teman sekelasku yang menyediakan kehangatan dan keakraban serta senantiasa menungguku menjadi bagian dari mereka. Mereka yang menarikku dengan pelan. Membimbingku agar aku tidak canggung, menuntunku untuk lebih mengenal mereka. Luar dan dalam. Mereka semua merapat padaku. Memberiku tawa dari hari ke hari. Membantuku merasa lebih nyaman untuk terus bersama mereka, dan akhirnya... aku sadar mereka telah lebih dari sekadar teman atau sahabat. Mereka bahkan lebih berarti dari seorang pacar sekalipun. Mereka setara dengan darah yang mengalir di tubuhku walau kami bukan berasal dari satu pohon keluarga. Namun mereka telah kuanggap keluarga. Melalui setiap alan bergelombang dan jurang bersama-sama. Saling berpegang erat satu sama lain dan tidak saling menjatuhkan. Mereka yang selalu bersamaku ketika aku homesick dan down. Mereka yang selalu aku butuhkan dimanapun.
Akhirnya, setelah penantian singkat selama dua semester, aku baru bisa bilang: Aku menemukan keluarga kedua.
Yasmin, Jakarta, Gubuk Ceria
Aku tau aku harus memposting setidaknya satu dari sekian banyaknya cerita pengalamanku selama merantau di kota orang. Yeah, aku berdomisili di Solo untuk beberapa tahun ke depan demi kuliah. Hebat, eh? Merantau demi belajar dan mendapat ilmu? Itulah yang kerap kali kudengar ketika aku menjawab pertanyaaan orang kalau aku kuliah di universitas di luar kota.
'Kok jauh banget? Emang bisa tinggal sendiri?'
'Kenapa gak di Jakarta aja? Kan cuma kuliah...'
'Gak capek apa, gak ada yang ngurusin?'
Bla, bla, bla...
Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar pertanyaan terkejut yang keluar dari mulut para penanya tersebut. Kalau dibilang lucu, sih, emang lucu. Apalagi kalau mendengar pertanyaan kedua di atas. Yah, kita kuliah kan ngga harus satu kota dengan orang tua. Lagipula, kalau ada yang murah dan lebih bagus, kenapa ngga? Harus diakui deh kuliah di kota kelahiran dan besar seperti Jakarta ini memang lebih menguras kantong ketimbang kuliah di luar kota. Apalagi kota kecil seperti Solo yang biaya hidupnya lebih murah.
Dari sekian banyak calon mahasiswa yang mendaftar SNMPTN dan berhasil lolos, aku salah satunya. Aku bersyukur karena jujur saja, untuk mengharapkan lulus saja aku tidak berani. Setelah pendaftaran dan tetek bengek yang diperlukan untuk melengkapi berkasku di Solo, aku kembali dihadapkan pada sebuah keberuntungan. Hasil SIMAK UI yang keluar sungguh mengejutkan. Aku lulus, sekali lagi, diterima di Ilmu Filsafat UI. Aku hanya bisa tertawa miris. Impianku menjadi salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah UI, malah jebol di Ilmu Filsafat. Untuk itu aku memutuskan untuk melepas UI.
Awalnya sulit memang. Menjadi satu-satunya cewek perantau di kelas (karena rata-rata perantau di kelasku yang berasal dari Jabodetabek adalah cowok!) yang harus beradaptasi dengan keadaan dimana aku harus mempelajari tiap karakter baru yang aku temui di kota kecil itu. Tidak mudah. Terlebih karena semua cewek di kelasku begitu pendiam dan jaim. Sama sekali berbeda dengan teman-temanku di Jakarta, yang rata-rata gila dan, yah, apa adanya. Karena itulah aku memilih mundur dari keakraban, menjaga jarak dengan mereka selama satu semester. Sulitnya aku bergaul dan jarang kuliah merupakan faktor buruknya IP yang aku peroleh saat yudisium.
Memasuki semester dua, aku mulai bisa menerima kehadiran mereka. Teman-teman sekelasku yang menyediakan kehangatan dan keakraban serta senantiasa menungguku menjadi bagian dari mereka. Mereka yang menarikku dengan pelan. Membimbingku agar aku tidak canggung, menuntunku untuk lebih mengenal mereka. Luar dan dalam. Mereka semua merapat padaku. Memberiku tawa dari hari ke hari. Membantuku merasa lebih nyaman untuk terus bersama mereka, dan akhirnya... aku sadar mereka telah lebih dari sekadar teman atau sahabat. Mereka bahkan lebih berarti dari seorang pacar sekalipun. Mereka setara dengan darah yang mengalir di tubuhku walau kami bukan berasal dari satu pohon keluarga. Namun mereka telah kuanggap keluarga. Melalui setiap alan bergelombang dan jurang bersama-sama. Saling berpegang erat satu sama lain dan tidak saling menjatuhkan. Mereka yang selalu bersamaku ketika aku homesick dan down. Mereka yang selalu aku butuhkan dimanapun.
Akhirnya, setelah penantian singkat selama dua semester, aku baru bisa bilang: Aku menemukan keluarga kedua.
Yasmin, Jakarta, Gubuk Ceria
Memori : Perjalanan Pulang (Pura 3)
Kami berhenti tepat di Kota Klaten, di pinggir jalan tepat di dekat lampu merah. Salah satu kendaraan kami mengalami bocor ban. Sambil menunggu beberapa dari kami memilih bermain catur di gubuk kecil di samping gubuk tambal ban. Mereka tenggelam dalam lautan hitam putih pion. Kami terdiri dari dua perempuan (aku salah satunya) dan empat lelaki. Dua lelaki yang bermain catur, satu sedang menambal ban. Hanya dia, satu yang tersisa dari empat, yang tidak membaur. Suatu kebetulan yang membuat heran karena sikapnya yang tidak biasa. Duduk menyendiri di atas motor usang milik bapak pemilik kios, sibuk dengan ponsel di tangannya. Ia memperhatikan kami dengan matanya yang tampak terus melotot. Oh, memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan kami lebih tepatnya. Ia berubah secepat cahaya mobil yang berlalu lalang di jalan. Tidak jelas terbaca apa yang sedang berkecamuk di pikirannya hingga ia bersikap seperti itu dan apa tujuannya sekarang. Berbagai pertanyaan kemudian muncul di benakku. Salah satunya, apa tepatnya ia sekarang? Boneka mata-mata yang dikirim sayap kiri? Atau dia hanya ingin menyendiri? Jika memang ia boneka, maka aku mengasihaninya karena ia telah melenceng jauh dari apa yang seharusnya ia jalani dan lakukan. Namun jika ia hanya ingin menghindariku, sekiranya aku akan memaklumi.
Belum lagi jelas bagaimana mestinya kami berlaku kemudian. Jalan yang terhampar di depan kami masih gelap. Tuhan belum juga mau ikut campur.
Belum lagi jelas bagaimana mestinya kami berlaku kemudian. Jalan yang terhampar di depan kami masih gelap. Tuhan belum juga mau ikut campur.
Memori : Kelabu Kelam (Pura 2)
Kami berteduh di sebuah rumah kuno bergaya Jawa masih di kawasan Kraton. Langit yang semula biru cerah berawan kini berganti kelabu kelam. Ada yang sengaja menahan kami di sini, agar niat kami kembali ke Kota Solo batal. Kami tidak berbuat banyak di rumah ini. Hanya saling mengobrol dan beberapa dari kami mengagumi ayam-ayam kate serta dua ekor anjing kecil yang selalu menyalak galak. Kelabu ini menyesakkan. Mengingatkanku pada kelabu Desember di Jakarta yang penuh dengan pahit ketimbang manis. Semua berubah hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Arti sebuah kebersamaan sekarang hanya sedikit tersirat, hampir lenyap. Kebersamaan itu tak lebih dari sebuah kedok. Semua yang diperlihatkan palsu seperti boneka plastik. Sekarang kami tidak punya banyak waktu untuk menguak. Waktu kami terbuang untuk sesuatu yang tidak penting dan bertujuan untuk menjatuhkan kami semua. Sia-sia kami di sini. Tidak ada hasil yang didapat. Nihil. Dipermainkan lagi, lagi, dan lagi. Terus begitu. Dan seperti bunga matahari yang layu diguyur hujan, kami belum juga mendapat titik terang.
Memori : Pura
Berapa banyak yang harus kita campakan? Sejuta umat pun sepertinya tak cukup. Sebanyak apapun tak akan membuat kita berpuas diri. Manusia. Hawa nafsunya tak pernah terhenti. Selalu menagih untuk di penuhi. Dan saat ini aku berada di sebuah persimpangan antara baik dan buruk, benar dan salah, hitam dan putih. Waras dan gila. Mencoba bertahan dari rahasia demi rahasia yang membebani diri. Kami semua terpaksa memakai topeng, berusaha belaku wajar diatas ketidakwajaran. Kami bergerak perlahan, dan gerilya. Mengamati tiap gerik yang tak seharusnya kasat. Langit Jogja di atas Kraton berawan namun panasnya matahari tak bisa terhindarkan. Terik. Kami merasa garing dalam kekakuan yang tiba-tiba saja terbit dengan sendirinya. Aku pernah bercerita kepadanya sesuatu tentang langit di atas kota Jogja yang menguarkan hawa aneh. Keanehannya kini tengah menyelimuti kami pula. Ada sesuatu yang minta dikuak, dikorek secaa mendalam. Ingin sekali aku berbuat demikian sekarang, tapi aku tidak ingin membuat teman-temanku kecewa. Walau aku sudah lebih dulu kecewa....
Langganan:
Komentar (Atom)




