own menu bar

Memori : Perjalanan Pulang (Pura 3)

Kami berhenti tepat di Kota Klaten, di pinggir jalan tepat di dekat lampu merah. Salah satu kendaraan kami mengalami bocor ban. Sambil menunggu beberapa dari kami memilih bermain catur di gubuk kecil di samping gubuk tambal ban. Mereka tenggelam dalam lautan hitam putih pion. Kami terdiri dari dua perempuan (aku salah satunya) dan empat lelaki. Dua lelaki yang bermain catur, satu sedang menambal ban. Hanya dia, satu yang tersisa dari empat, yang tidak membaur. Suatu kebetulan yang membuat heran karena sikapnya yang tidak biasa. Duduk menyendiri di atas motor usang milik bapak pemilik kios, sibuk dengan ponsel di tangannya. Ia memperhatikan kami dengan matanya yang tampak terus melotot. Oh, memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan kami lebih tepatnya. Ia berubah secepat cahaya mobil yang berlalu lalang di jalan. Tidak jelas terbaca apa yang sedang berkecamuk di pikirannya hingga ia bersikap seperti itu dan apa tujuannya sekarang. Berbagai pertanyaan kemudian muncul di benakku. Salah satunya, apa tepatnya ia sekarang? Boneka mata-mata yang dikirim sayap kiri? Atau dia hanya ingin menyendiri? Jika memang ia boneka, maka aku mengasihaninya karena ia telah melenceng jauh dari apa yang seharusnya ia jalani dan lakukan. Namun jika ia hanya ingin menghindariku, sekiranya aku akan memaklumi.
Belum lagi jelas bagaimana mestinya kami berlaku kemudian. Jalan yang terhampar di depan kami masih gelap. Tuhan belum juga mau ikut campur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar