own menu bar

Memori : Kelabu Kelam (Pura 2)

Kami berteduh di sebuah rumah kuno bergaya Jawa masih di kawasan Kraton. Langit yang semula biru cerah berawan kini berganti kelabu kelam. Ada yang sengaja menahan kami di sini, agar niat kami kembali ke Kota Solo batal. Kami tidak berbuat banyak di rumah ini. Hanya saling mengobrol dan beberapa dari kami mengagumi ayam-ayam kate serta dua ekor anjing kecil yang selalu menyalak galak. Kelabu ini menyesakkan. Mengingatkanku pada kelabu Desember di Jakarta yang penuh dengan pahit ketimbang manis. Semua berubah hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Arti sebuah kebersamaan sekarang hanya sedikit tersirat, hampir lenyap. Kebersamaan itu tak lebih dari sebuah kedok. Semua yang diperlihatkan palsu seperti boneka plastik. Sekarang kami tidak punya banyak waktu untuk menguak. Waktu kami terbuang untuk sesuatu yang tidak penting dan bertujuan untuk menjatuhkan kami semua. Sia-sia kami di sini. Tidak ada hasil yang didapat. Nihil. Dipermainkan lagi, lagi, dan lagi. Terus begitu. Dan seperti bunga matahari yang layu diguyur hujan, kami belum juga mendapat titik terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar