own menu bar

Memori : Kelabu Kelam (Pura 2)

Kami berteduh di sebuah rumah kuno bergaya Jawa masih di kawasan Kraton. Langit yang semula biru cerah berawan kini berganti kelabu kelam. Ada yang sengaja menahan kami di sini, agar niat kami kembali ke Kota Solo batal. Kami tidak berbuat banyak di rumah ini. Hanya saling mengobrol dan beberapa dari kami mengagumi ayam-ayam kate serta dua ekor anjing kecil yang selalu menyalak galak. Kelabu ini menyesakkan. Mengingatkanku pada kelabu Desember di Jakarta yang penuh dengan pahit ketimbang manis. Semua berubah hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Arti sebuah kebersamaan sekarang hanya sedikit tersirat, hampir lenyap. Kebersamaan itu tak lebih dari sebuah kedok. Semua yang diperlihatkan palsu seperti boneka plastik. Sekarang kami tidak punya banyak waktu untuk menguak. Waktu kami terbuang untuk sesuatu yang tidak penting dan bertujuan untuk menjatuhkan kami semua. Sia-sia kami di sini. Tidak ada hasil yang didapat. Nihil. Dipermainkan lagi, lagi, dan lagi. Terus begitu. Dan seperti bunga matahari yang layu diguyur hujan, kami belum juga mendapat titik terang.

Memori : Pura

Berapa banyak yang harus kita campakan? Sejuta umat pun sepertinya tak cukup. Sebanyak apapun tak akan membuat kita berpuas diri. Manusia. Hawa nafsunya tak pernah terhenti. Selalu menagih untuk di penuhi. Dan saat ini aku berada di sebuah persimpangan antara baik dan buruk, benar dan salah, hitam dan putih. Waras dan gila. Mencoba bertahan dari rahasia demi rahasia yang membebani diri. Kami semua terpaksa memakai topeng, berusaha belaku wajar diatas ketidakwajaran. Kami bergerak perlahan, dan gerilya. Mengamati tiap gerik yang tak seharusnya kasat. Langit Jogja di atas Kraton berawan namun panasnya matahari tak bisa terhindarkan. Terik. Kami merasa garing dalam kekakuan yang tiba-tiba saja terbit dengan sendirinya. Aku pernah bercerita kepadanya sesuatu tentang langit di atas kota Jogja yang menguarkan hawa aneh. Keanehannya kini tengah menyelimuti kami pula. Ada sesuatu yang minta dikuak, dikorek secaa mendalam. Ingin sekali aku berbuat demikian sekarang, tapi aku tidak ingin membuat teman-temanku kecewa. Walau aku sudah lebih dulu kecewa....