own menu bar

Realita

Berlari. Tanpa sadar ia berlari. Sejauh mungkin sampai kakinya lelah. Lagipula apa artinya berjalan jika dikejar bayang? Semakin cepat ia lari, semakin cepat pula bayang mengejar. Ini hidup bukan sebatas hidup. Melainkan batu di pinggir sungai yang terkikis air. Larinya kemudian menjadi sebuah candu. Menghindar dari titian halus bencana. Tak mau repot menyeberanginya. Ketika lelah ia berhenti. Mengais belas kasih dari keberuntungan.
Semu. Lantaran semua bisu hingga tercipta bayang dari bayang. Yang ada hanya kenyamanan palsu dari ketiadaberdayaan. Sepatu-sepatu itu lalu rusak, usang terkikis waktu. Kakinya kini bukan hanya lelah. Tak dapat lagi digunakan sementara jurang semakin dekat, menariknya kuat-kuat. Hanya bisa meratap. Tak tahu harus apa dan bagaimana. Keberuntungan telah menjauh darinya. Tak lagi dapat bergantung pada kasih sayangnya. Dinding juga tak membantu. Runtuh bertahun-tahun lalu. Manusia sebatas manusia. Jika ajal sudah dekat, dia tak akan bisa lari kemana-mana.

Orkes Hidup

Semakin lama kita hidup semakin kita sadar irama dan warna kehidupan.

Well, pernyataan di atas gak cuma omongan orang bijak belaka sih. Pernyataan di atas terbukti kok kalau kalian menikmati hal-hal kecil dalam hidup kalian dan merubah kebiasaan jelek semisal menggerutu atau mengutuk. Coba ubah pola hidup dengan selalu bersyukur atas apa yang udah dikasih sama yang di atas sana. Jangan kebanyakan ngeluh, Tuhan udah males dengernya. Nanti kalo elo kena azab kan gak lucu.


Nikmatin hal-hal kecil? Gak salah tuh?


Yah, gak salah sih selama ini pernyataan keluar dari mulut gue #abaikan. Hal-hal kecil yang gue maksud adalah seperti contoh : barang-barang di kamar lo, warna-warna pakaian di lemari, atau betapa bosannya nyapu halaman setiap sore. Tanpa kalian sadar semua itu ada filosofinya. Kenapa kalian meletakkan barang-barang itu di tempatnya sekarang? Kenapa pakaian kalian yang ada di lemari kebanyakan warna, misalnya, putih? Pasti ada jawaban yang lebih mendalam dibanding jawaban 'karena gue suka'. Menurut gue itu bukan jawaban karena hidup lebih dari sekedar suka dan tidak suka.

Baru-baru ini gue sadar kehidupan ini sama aja kayak musik, semua bernada. Coba perhatiin baik-baik. Kalo telinga kalian jeli kalian akan denger sebuah orkestra yang bahkan lebih indah dari karya maestro manapun yang pernah hidup. Oke, mungkin ini agak lebay. Tapi kenyataannya, gue jatuh cinta sama irama-irama itu. Membuat gue selalu berpikir tentang hal yang belum pernah terlintas di otak gue. Thanks to the melody cause I can forget 'bout how cruel is this life for a moment. Untuk pertama kalinya gue bersyukur terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa mendengarkan musik paling indah yang pernah ada.

Lebaran Independent

Satu bulan saya berada di rumah sejak awal puasa tahun ini dan bertahan hingga hari lebaran. Betapa saya merindukan hari kemenangan ini setelah satu tahun menunggu. Banyak perubahan yang membuat saya sedikit pangling. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman-teman SMA saya dalam acara buka puasa bersama. Sempat berharap saya akan bertemu dengan orang-orang yang pernah mengisi hari-hari saya dalam balutan seragam putih abu-abu, melihat kekonyolan mereka yang dulu sering ditunjukan. Tapi tidak, saya tidak lagi melihat mereka sebagai orang-orang yang saya kenal. Mereka memang teman-teman saya, yang beramah tamah dengan saya, yang bernostalgia bersama saya. Namun mereka bukan lagi orang-orang terdekat. Umpamakan saja mereka adalah ponsel Nokia yang berprogam seperti Blackberry. Sebagian besar sikap lama mereka yang saya rindukan terganti oleh suatu sifat baru. Saya menduga adanya suatu tuntutan zaman yang merubah mereka menjadi seperti itu. Namun saya, sebagai seseorang yang masih asli (menurut saya, karena sama sekali tidak ada perubahan dari penampilan maupun sifat dan tetek bengeknya), merasa sangat kehilangan sosok mereka dan ditinggalkan. Sebuah ironi dari kecanggihan zaman yang merubah sifat asli seorang manusia dan malah mengedepankan sisi gengsi juga ego.

Namun, dibalik modernitas ini, masih banyak orang-orang yang memiliki pemikiran kolot seperti misalnya, mengatur perjodohan. Saya jelas tidak membicarakan diri sendiri karena saya sendiri tidak begitu suka diatur. Saya membicarakan sebuah kebiasaan buruk yang mengakar dari keegoisan dan keserakahan. Salah satu alasan perjodohan adalah harta. Sebuah keluarga kaya menginginkan besan yang kaya juga agar setara kastanya. Padahal sistem kasta telah dihilangkan dari kehidupan kota besar, hanya beberapa daerah dan adat yang masih menggunakan sistem tersebut. Tetapi lagi-lagi, kesombongan menjadi awal dimana gengsi berkembang menjadi sebuah ironi. Yeah, ironi lagi. Bagaimana jika seseorang menikah karena perjodohan? Kita tidak tahu menahu soal orang yang akan kita nikahi. Beberapa kali pertemuan saja belum cukup. Apakah kita menyukai orang itu? Mencintai? Bagaimana sifatnya? Latar belakang keluarga saja tidak cukup untuk memulai sebuah rumah tangga yang diimpikan. Apalagi jika kemudian terkuak sifat asli pasangan yang membuat kita kecewa berat. Perceraian jelas satu-satunya jalan. Tapi kembali lagi, orang tua. Keluarga. Apakah mereka tidak akan lebih kecewa jika pada akhirnya anak-anak mereka memilih bercerai dari pasangan yang sudah mereka pilih? Apa anak-anak itu tega melihat orang tua mereka bersedih? Itulah perlunya sebuah kepercayaan dalam satu keluarga. Tidak melulu soal aturan dan adat. Anak-anak juga bisa memilah mana yang benar dan yang salah, terlebih untuk dirinya sendiri. Bukannya saya ingin mengajarkan pemberontakan, tapi cobalah untuk berani bergerak independent. Memilih pasangan hidup yang tepat dan kita cintai hingga akhir hayat bisa kita dapatkan tanpa bantuan perjodohan-paksa orang tua. Saya hanya mengingatkan agar nantinya tidak menyesali keadaan. Karena, percayalah kawan, penyesalan itu bukan hal menyenangkan yang bisa kita rewind sambil tersenyum. Penyesalan itu bukan kenangan yang akan membunuh diri sendiri. Suarakan kebebasanmu. Kamu akan lebih bahagia, jika mengerti arti dari kebebasan dan mengerti menjalaninya.



Salam independent!




Which one do you like?

Dua Semester

Well, lama gak curhat!

Aku tau aku harus memposting setidaknya satu dari sekian banyaknya cerita pengalamanku selama merantau di kota orang. Yeah, aku berdomisili di Solo untuk beberapa tahun ke depan demi kuliah. Hebat, eh? Merantau demi belajar dan mendapat ilmu? Itulah yang kerap kali kudengar ketika aku menjawab pertanyaaan orang kalau aku kuliah di universitas di luar kota.

'Kok jauh banget? Emang bisa tinggal sendiri?'

'Kenapa gak di Jakarta aja? Kan cuma kuliah...'

'Gak capek apa, gak ada yang ngurusin?'

Bla, bla, bla...

Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar pertanyaan terkejut yang keluar dari mulut para penanya tersebut. Kalau dibilang lucu, sih, emang lucu. Apalagi kalau mendengar pertanyaan kedua di atas. Yah, kita kuliah kan ngga harus satu kota dengan orang tua. Lagipula, kalau ada yang murah dan lebih bagus, kenapa ngga? Harus diakui deh kuliah di kota kelahiran dan besar seperti Jakarta ini memang lebih menguras kantong ketimbang kuliah di luar kota. Apalagi kota kecil seperti Solo yang biaya hidupnya lebih murah.

Dari sekian banyak calon mahasiswa yang mendaftar SNMPTN dan berhasil lolos, aku salah satunya. Aku bersyukur karena jujur saja, untuk mengharapkan lulus saja aku tidak berani. Setelah pendaftaran dan tetek bengek yang diperlukan untuk melengkapi berkasku di Solo, aku kembali dihadapkan pada sebuah keberuntungan. Hasil SIMAK UI yang keluar sungguh mengejutkan. Aku lulus, sekali lagi, diterima di Ilmu Filsafat UI. Aku hanya bisa tertawa miris. Impianku menjadi salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah UI, malah jebol di Ilmu Filsafat. Untuk itu aku memutuskan untuk melepas UI.

Awalnya sulit memang. Menjadi satu-satunya cewek perantau di kelas (karena rata-rata perantau di kelasku yang berasal dari Jabodetabek adalah cowok!) yang harus beradaptasi dengan keadaan dimana aku harus mempelajari tiap karakter baru yang aku temui di kota kecil itu. Tidak mudah. Terlebih karena semua cewek di kelasku begitu pendiam dan jaim. Sama sekali berbeda dengan teman-temanku di Jakarta, yang rata-rata gila dan, yah, apa adanya. Karena itulah aku memilih mundur dari keakraban, menjaga jarak dengan mereka selama satu semester. Sulitnya aku bergaul dan jarang kuliah merupakan faktor buruknya IP yang aku peroleh saat yudisium.

Memasuki semester dua, aku mulai bisa menerima kehadiran mereka. Teman-teman sekelasku yang menyediakan kehangatan dan keakraban serta senantiasa menungguku menjadi bagian dari mereka. Mereka yang menarikku dengan pelan. Membimbingku agar aku tidak canggung, menuntunku untuk lebih mengenal mereka. Luar dan dalam. Mereka semua merapat padaku. Memberiku tawa dari hari ke hari. Membantuku merasa lebih nyaman untuk terus bersama mereka, dan akhirnya... aku sadar mereka telah lebih dari sekadar teman atau sahabat. Mereka bahkan lebih berarti dari seorang pacar sekalipun. Mereka setara dengan darah yang mengalir di tubuhku walau kami bukan berasal dari satu pohon keluarga. Namun mereka telah kuanggap keluarga. Melalui setiap alan bergelombang dan jurang bersama-sama. Saling berpegang erat satu sama lain dan tidak saling menjatuhkan. Mereka yang selalu bersamaku ketika aku homesick dan down. Mereka yang selalu aku butuhkan dimanapun.

Akhirnya, setelah penantian singkat selama dua semester, aku baru bisa bilang: Aku menemukan keluarga kedua.






Yasmin, Jakarta, Gubuk Ceria

Memori : Perjalanan Pulang (Pura 3)

Kami berhenti tepat di Kota Klaten, di pinggir jalan tepat di dekat lampu merah. Salah satu kendaraan kami mengalami bocor ban. Sambil menunggu beberapa dari kami memilih bermain catur di gubuk kecil di samping gubuk tambal ban. Mereka tenggelam dalam lautan hitam putih pion. Kami terdiri dari dua perempuan (aku salah satunya) dan empat lelaki. Dua lelaki yang bermain catur, satu sedang menambal ban. Hanya dia, satu yang tersisa dari empat, yang tidak membaur. Suatu kebetulan yang membuat heran karena sikapnya yang tidak biasa. Duduk menyendiri di atas motor usang milik bapak pemilik kios, sibuk dengan ponsel di tangannya. Ia memperhatikan kami dengan matanya yang tampak terus melotot. Oh, memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan kami lebih tepatnya. Ia berubah secepat cahaya mobil yang berlalu lalang di jalan. Tidak jelas terbaca apa yang sedang berkecamuk di pikirannya hingga ia bersikap seperti itu dan apa tujuannya sekarang. Berbagai pertanyaan kemudian muncul di benakku. Salah satunya, apa tepatnya ia sekarang? Boneka mata-mata yang dikirim sayap kiri? Atau dia hanya ingin menyendiri? Jika memang ia boneka, maka aku mengasihaninya karena ia telah melenceng jauh dari apa yang seharusnya ia jalani dan lakukan. Namun jika ia hanya ingin menghindariku, sekiranya aku akan memaklumi.
Belum lagi jelas bagaimana mestinya kami berlaku kemudian. Jalan yang terhampar di depan kami masih gelap. Tuhan belum juga mau ikut campur.

Memori : Kelabu Kelam (Pura 2)

Kami berteduh di sebuah rumah kuno bergaya Jawa masih di kawasan Kraton. Langit yang semula biru cerah berawan kini berganti kelabu kelam. Ada yang sengaja menahan kami di sini, agar niat kami kembali ke Kota Solo batal. Kami tidak berbuat banyak di rumah ini. Hanya saling mengobrol dan beberapa dari kami mengagumi ayam-ayam kate serta dua ekor anjing kecil yang selalu menyalak galak. Kelabu ini menyesakkan. Mengingatkanku pada kelabu Desember di Jakarta yang penuh dengan pahit ketimbang manis. Semua berubah hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Arti sebuah kebersamaan sekarang hanya sedikit tersirat, hampir lenyap. Kebersamaan itu tak lebih dari sebuah kedok. Semua yang diperlihatkan palsu seperti boneka plastik. Sekarang kami tidak punya banyak waktu untuk menguak. Waktu kami terbuang untuk sesuatu yang tidak penting dan bertujuan untuk menjatuhkan kami semua. Sia-sia kami di sini. Tidak ada hasil yang didapat. Nihil. Dipermainkan lagi, lagi, dan lagi. Terus begitu. Dan seperti bunga matahari yang layu diguyur hujan, kami belum juga mendapat titik terang.

Memori : Pura

Berapa banyak yang harus kita campakan? Sejuta umat pun sepertinya tak cukup. Sebanyak apapun tak akan membuat kita berpuas diri. Manusia. Hawa nafsunya tak pernah terhenti. Selalu menagih untuk di penuhi. Dan saat ini aku berada di sebuah persimpangan antara baik dan buruk, benar dan salah, hitam dan putih. Waras dan gila. Mencoba bertahan dari rahasia demi rahasia yang membebani diri. Kami semua terpaksa memakai topeng, berusaha belaku wajar diatas ketidakwajaran. Kami bergerak perlahan, dan gerilya. Mengamati tiap gerik yang tak seharusnya kasat. Langit Jogja di atas Kraton berawan namun panasnya matahari tak bisa terhindarkan. Terik. Kami merasa garing dalam kekakuan yang tiba-tiba saja terbit dengan sendirinya. Aku pernah bercerita kepadanya sesuatu tentang langit di atas kota Jogja yang menguarkan hawa aneh. Keanehannya kini tengah menyelimuti kami pula. Ada sesuatu yang minta dikuak, dikorek secaa mendalam. Ingin sekali aku berbuat demikian sekarang, tapi aku tidak ingin membuat teman-temanku kecewa. Walau aku sudah lebih dulu kecewa....